NaxaLWR9MaBcNaB4LGpcMqx4yTUfATofA6YbyaV=
Gagal Jantung Kongestif (CHF)

Gagal Jantung Kongestif (CHF)

Review
Definisi
Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure) adalah kegagalan jantung dalam memompa darah sesuai kebutuhan, artinya → jantung memompa kurang dari volume yang semestinya, akhirnya darah yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh tertimbun di jantung, lebih tepatnya di ventrikel hingga akhirnya tertimbun juga di atrium, kemudian semakin parah hingga tertimbun di pembuluh darah pulmo (menyebabkan edema pulmo), sampai tertimbun ke vena cava, vena jugular, dan vena porta (hepar). Dalam memahami gagal jantung kita perlu mengetahui:
  • EDV: volume pada ventrikel sebelum terjadi kontraksi
  • ESV: volume pada ventrikel setelah terjadi kontraksi
  • SV: volume 1 kali pompa yang dilakukan oleh ventrikel (SV = EDV - ESV)
  • CO: volume darah yang dialirkan oleh jantung selama 1 menit (CO = SV x HR)
  • Ejection Fraction (EF): berapa persen volume 1 x pompa (EF = [SV : EDV] x 100%)

Gagal jantung dapat diukur dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri (dapat diketahui angka-angkanya melalui pemeriksaan ekokardiografi), nilai normal EF (ejection fraction) ventrikel kiri adalah 55% - 70%.

Gejala dan Tanda
  • Lihat PF di OSCE Guide Kuliah Pagi [ Klik Disini ]
  • Kriteria Framingham (Minimal 2 mayor atau 1 mayor + 2 minor):
    • Mayor:
      • Anamnesis: Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND) (sesak malam hari yang tiba-tiba dan sering → membuat pasien sering terbangun malam hari) atau Ortopneu (sesak jika tidur terlentang datar → agar tidak sesak kepala harus lebih tinggi, bahkan pada kondisi yang parah tidur sambil posisi duduk agar tidak sesak).
      • Pemeriksaan Fisik: Gallop (S3), ronkhi, peningkatan JVP, refluks hepatojugular positif.
      • Penunjang: Edema pulmo (X-foto thorax) → batwing appearance, kardiomegali (X-foto thorax, EKG kesan LVH).
    • Minor:
      • Takikardi
      • Pitting edema
      • Efusi pleura
      • Hepatomegali
      • Batuk malam hari
Klasifikasi
  • Fungsional (NYHA):
    • NYHA I: aktivitas apapun tidak membuat sesak (asimptomatik), tidak ada keterbatasan aktivitas.
    • NYHA II: hanya sesak jika aktivitas berat.
    • NYHA III: sesak walaupun aktivitas ringan (sehari-hari).
    • NYHA IV: sesak walaupun istirahat.
Klasifikasi Gagal Jantung
Edukasi

Gagal jantung biasanya bukanlah suatu kondisi penyakit primer, melainkan komplikasi tahap akhir dari penyakit lain yang menjadi etiologinya, biasanya disebabkan oleh hipertensi kronis dan infark miokard. Untuk itu pasien harus diedukasi mengenai hal berikut:

  • Kontrol faktor risiko:
    • Hipertensi
    • Diabetes melitus
    • Dislipidemia
    • Obesitas
    • Merokok
    • Riwayat infark miokard
  • Batasi asupan cairan → 1 liter - 1,5 liter saja per hari
  • Batasi asupan garam → 1 - 2 gram saja per hari
  • Berhenti merokok dan alkohol
  • Pasien gagal jantung harus dirujuk ke Sp.PD / Sp.JP untuk perawatan lebih lanjut dan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi
Tatalaksana
Gagal Jantung Kongestif (Serangan Akut)
  • Oksigen 4 lpm
  • Pasang IV line (BSM)
  • Pasang Kateter Urine (DC)
  • Cek EKG
  • Mayoritas kasus (95%) gagal jantung on akut dalam kondisi "wet / kongesti", bisa wet-warm maupun wet-cold. Kasus gagal jantung wet perlu diberi IV line → bolus furosemide 1 mg/KgBB (start low and slow, dosis maks 5 amp = 100 mg).
  • Konsul Sp.PD / Sp.JP
Gagal Jantung Kongestif (Kronis / Stabil)

Dalam melakukan terapi, berpatokan pada klasifikasi stadium:

  • Stage A → hanya terdapat faktor risiko (DM, HT):
    • ACE inhibitor / ARB
  • Stage B → asimptomatik namun X-foto kardiomegali:
    • ACE inhibitor / ARB + Beta blocker
  • Stage C → simptomatik:
    • ACE inhibitor / ARB + Beta blocker + Diuretik
    • Furosemide 1 x 40 mg PO pagi selama 7 hari → kontrol
    • Captopril 3 x 12,5 mg PO → maksimal 3 x 50 mg PO selama 7 hari → kontrol
    • Bisoprolol 1 x 1,25 mg PO selama 7 hari → kontrol (dosis terkecil rekomendasi AHA dan ESC) → dapat ditingkatkan hingga maks 1 x 10 mg atau lebih rendah sesuai toleransi pasien.
    • Jangan berikan beta blocker pada kondisi CHF on acute (ada ronchi saat auskultasi pulmo), pemberian beta blocker hanya saat kondisi non akut / saat CHF sudah stabil.
  • Stage D → seperti NYHA IV:
    • ACE inhibitor / ARB + Beta blocker + Diuretik + Digoxin (pemberian digoxin konsul ke Sp.JP, digoxin diberikan jika ditemukan fibrilasi atrial → untuk menjaga agar denyut nadi tidak terlalu cepat).
  • Untuk diuretik diutamakan loop, namun juga dapat dikombinasi dengan thiazide apabila terjadi edema refrakter yang tidak merespon dengan hanya pemberian loop diuretik saja.
  • Terapi dimulai dengan dosis minimal kemudian dititrasi tiap 2 minggu (saat kontrol) hingga dosis optimal atau dosis maksimal yang dapat ditoleransi dan dikombinasi sesuai kebutuhan pasien.
  • Beta blocker hanya boleh diberikan pada pasien gagal jantung kongestif yang stabil (bukan dalam kondisi serangan akut) → perlu monitor GFR (> 40 mL/menit → masih dianggap aman, normalnya > 90 ml/menit).
  • CCB seperti amlodipine, diltiazem, verapamil → KONTRAINDIKASI → dapat memperburuk gagal jantung.
  • OAINS → KONTRAINDIKASI → memperburuk gejala dan meningkatkan mortalitas gagal jantung.
Sediaan
  • Captopril tab 12,5 mg, tab 25 mg
  • Candesartan tab 8 mg, tab 16 mg
  • Bisoprolol tab 2,5 mg, tab 5 mg
  • Hydrochlorothiazide tab 25 mg
  • Furosemide tab 40 mg, amp 10 mg/ml (1 amp = 2 ml)
  • Spironolactone tab 25 mg, tab 50 mg, tab 100 mg
Hitung Dosis
Akses Kalkulator Dosis Pediatri [ Klik Disini ]
Note: Only a member of this blog may post a comment.
Contact Us via Whatsapp